Akhir-akhir ini, saya sering melihat mainan anak yang lagi viral muncul di mana-mana. Di media sosial, di grup orang tua, sampai di halaman depan marketplace. Videonya terlihat menarik: warnanya cerah, anak-anak tampak antusias, dan katanya bisa mendorong perkembangan tertentu anak hanya dengan bermain sebentar.
Sebagai orang tua Naba dan Nara, jujur saja, saya juga pernah tergoda. Tapi setelah beberapa kali coba membeli (sudah dua kali saya beli mainan yang lagi banyak dibahas di Tiktok), saya sadar satu hal: tidak semua mainan yang viral benar-benar cocok untuk anak.
Ada yang hanya menarik di awal, lalu cepat ditinggalkan. Ada juga yang terlihat edukatif di video, tapi saat dimainkan di rumah justru membuat anak cepat bosan atau terlalu bergantung pada suara dan lampu. Saya akhirnya belajar bahwa viral belum tentu berarti bagus, apalagi untuk kebutuhan dan tahap perkembangan Naba dan Nara yang berbeda.
TL;DR
- Mainan anak yang lagi viral tidak selalu sesuai usia, terlalu stimulatif, cepat bosan, atau nilai edukasinya dangkal.
- Belanja mainan anak perlu selektif karena algoritma FYP TikTok atau feed Instagram menampilkan konten relevan yang bikin tergoda membeli mainan tanpa kebutuhan nyata.
- Alih-alih membeli mainan viral, sebaiknya pilih mainan yang bisa dimainkan dengan banyak cara, misalnya balok busa berlapis karena lebih tahan lama, mendukung kreativitas, dan perkembangan motorik serta kognitif anak.
Kenapa Banyak Mainan Anak Bisa Viral?
Banyak mainan anak menjadi viral karena tampilannya menarik dan terlihat satisfying saat dimainkan di video. Warna cerah, gerakan rapi, serta format video pendek denganpotongan frame yang cepat membuat mainan tampak seru hanya dalam beberapa detik, meski belum tentu nyaman atau bermakna saat dimainkan di rumah.
Selain itu, mainan viral sering dibungkus dengan klaim edukatif yang terdengar instan dan diperkuat oleh rekomendasi influencer parenting. Di kamera, mainan terlihat super wow, tetapi pengalaman bermain anak di dunia nyata bisa sangat berbeda. Dari sini saya belajar bahwa viral sering kali soal konten, bukan selalu soal kualitas mainan itu sendiri.
Alasan Kenapa Mainan Anak yang Lagi Viral Tidak Selalu Bagus
Sebagai orang tua Naba dan Nara, saya mulai sadar bahwa masalah utama mainan viral bukan karena mainannya jelek, tapi karena tidak selalu cocok untuk anak yang memainkannya. Berikut beberapa alasan yang paling relevan.
Tidak Sesuai Usia Anak
Banyak mainan viral terlihat seru, tapi ternyata tidak sesuai dengan usia anak. Jika anak masih terlalu kecil, ia bisa frustrasi karena kesulitan memainkannya. Sebaliknya, jika anak sudah terlalu besar, mainan cepat terasa membosankan.
Terlalu Stimulatif
Beberapa mainan dipenuhi lampu, suara, dan warna yang berlebihan. Anak jadi cenderung pasif dan, misalnya, hanya menekan tombol, tanpa banyak berpikir atau berkreasi. Dalam jangka panjang, jenis stimulasi seperti ini kurang membantu perkembangan fokus dan imajinasi.
Nilai Edukasi yang Dangkal
Tidak sedikit mainan viral mengklaim bisa melatih motorik atau kognitif, tapi sebenarnya hanya punya satu fungsi utama. Anak mengikuti pola yang sama berulang-ulang, tanpa ruang untuk eksplorasi lebih jauh. Akibatnya, manfaat bermain terasa sangat terbatas.
Anak Cepat Bosan
Mainan viral sering kali hanya menarik di awal. Setelah rasa penasaran hilang, mainan pun jarang disentuh lagi. Akhirnya, mainan disimpan dan tidak benar-benar menjadi bagian dari aktivitas bermain sehari-hari anak.
Keamanan dan Kualitas Tidak Selalu Terjamin
Karena fokus pada tren, kualitas sering kali menjadi nomor sekian. Ada mainan dengan bahan yang kurang kuat, ukuran terlalu kecil, atau tanpa informasi sertifikasi yang jelas. Sebagai orang tua, hal ini tentu perlu jadi perhatian serius.
Cara Menilai Apakah Mainan Viral Cocok untuk Anak Kita
Sebelum ikut membeli mainan yang sedang viral, ada beberapa hal sederhana yang biasanya saya pertimbangkan sebagai orang tua Naba dan Nara.
- Cek usia, bukan hanya review: Pastikan usia yang direkomendasikan benar-benar sesuai dengan kemampuan anak, bukan hanya karena banyak ulasan positif.
- Lihat cara anak bermain, bukan videonya: Bayangkan bagaimana anak Anda akan memainkan mainan tersebut di rumah, tanpa kamera dan arahan.
- Pilih mainan open-ended: Mainan yang bisa dimainkan dengan banyak cara biasanya lebih tahan lama dan tidak cepat membosankan.
- Utamakan proses bermain, bukan hasil: Fokus pada pengalaman anak saat bermain, bukan seberapa cepat ia bisa menyelesaikan atau “berhasil” menggunakan mainan.
Kita Sebagai Orang Tua Jangan Terlalu Impulsif
FYP di TikTok atau feed Instagram sengaja menampilkan konten yang relevan atau sesuai kesukaan kita. Jika kita sering mengakses konten parenting, rekomendasi-rekomendasi mainan atau pun buku sering tanpa sadar kita lihat setiap hari. Hasilnya, muncul rasa ingin membeli padahal anak belum tentu butuh, atau mainan tersebut tidak cocok dengan tahap perkembangan mereka.
Ini berbeda dengan ketika kita mencari rekomendasi secara aktif, misalnya lewat Google. Saat mencari mainan tertentu, niat kita jelas: Mengetikkan kata kunci tertentu karena ingin menemukan informasi dan rekomendasi yang sesuai kebutuhan anak. Kita lebih fokus, lebih selektif, dan cenderung tidak terbawa impuls seperti di media sosial.
Dari pengalaman saya, membedakan antara konten pasif yang bikin tergoda dan konten aktif yang memang dibutuhkan sangat membantu agar belanja mainan jadi lebih bijak.
Alternatif Mainan yang Lebih Tahan Lama Dibanding Mainan Viral
Salah satu alasan mainan viral sering tidak cocok untuk anak-anak adalah minimnya elemen eksploratif. Sebagai alternatif, kita bisa mencari mainan untuk anak yang open-ended sehingga anak-anak kita bisa terus bereksplorasi berdasarkan imajinasi mereka.
Balok Busa Berlapis bisa menjadi pilihan mainan anak yang cocok untuk mengembangkan kreativitas. Mainan ini memberi kebebasan anak untuk menyusun, menumpuk, dan berkreasi sesuai imajinasi. Bahannya ringan dan aman, sehingga anak bisa bereksplorasi dengan percaya diri.
Nabanara mendapatkan komisi kecil untuk setiap pembelian melalui tombol berikut. Kami menghargai dukungan kamu!
Balok Busa Berlapis dengan Puluhan Shapes dan WarnaBerikut beberapa kelebihan lainnya:
- Terdapat ratusan balok untuk varian tertingginya
- Mengenalkan bentuk dan warna serta ukuran secara menyenangkan
- Melatih motorik halus serta koordinasi mata–tangan
- Mengembangkan kecerdasan visual-spasial dan kreativitas
- Mendukung konsep matematika sederhana lewat susunan balok
- Bahannya ringan tapi kokoh sehingga aman dan nyaman dimainkan anak
- Bisa sekaligus membiasakan anak untuk merapikan dan mengumpulkan kembali mainan (karena jumlah shapesnya ada banyak)
Yang Bisa Kita Pelajari
Viral boleh menjadi referensi, tapi jangan jadikan itu patokan utama saat memilih mainan. Yang paling penting adalah memastikan mainan cocok dengan usia, minat, dan kebutuhan anak kita.
Sebagai orang tua Naba dan Nara, saya percaya bahwa mainan terbaik bukan yang lagi banyak dibahas, tapi yang paling sering dimainkan dan benar-benar memberi pengalaman belajar dan bermain yang menyenangkan. Juga tidak lupa yang mendukung perkembangan anak secara nyata.