Sebagian dari kita kayaknya pernah mengira bahwa sensory play anak selalu identik dengan mainan. Sebutlah sensory mat, busy board, slime, atau alat-alat mahal berlabel “sensory”.
Sampai akhirnya saya menyadari sesuatu yang penting: sensory play sejatinya adalah cara anak belajar tentang dunia, dan dunia itu sendiri sudah penuh dengan stimulus sensorik.
Apa Itu Sensory Play?
Sensory play adalah aktivitas yang melibatkan satu atau lebih indera pada anak: sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, serta sistem proprioseptif (kesadaran tubuh) dan vestibular (keseimbangan).
Menurut jurnal Early Childhood Research Quarterly, stimulasi sensorik berperan langsung dalam:
- perkembangan struktur otak,
- pembentukan jalur saraf,
- kemampuan regulasi emosi,
- serta kesiapan belajar anak.
Penelitian lain dalam Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa pengalaman sensorik yang kaya membantu meningkatkan:
- atensi,
- kemampuan problem solving,
- koordinasi motorik,
- dan fleksibilitas kognitif pada anak usia dini.
Dengan kata lain, sensory play bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan sebuah fondasi belajar anak.
Tidak Melulu tentang Mainan
Menurut pendekatan dalam Journal of Early Childhood Education, anak belajar paling efektif ketika pengalaman sensoriknya terhubung langsung dengan aktivitas bermakna dan konteks kehidupan nyata. Sensory play yang terjadi di dalam aktivitas sehari-hari memperkuat koneksi antara indera, gerakan tubuh, emosi, dan kognisi, sesuatu yang sulit dicapai hanya dengan interaksi pada satu benda atau satu fitur mainan.
Saya mulai melihat perubahan besar ketika fokus kami bergeser dari “mengumpulkan mainan sensorik” menjadi “menciptakan pengalaman sensorik”.
Misalnya, saat Naba membantu saya menuang air, ia tidak hanya belajar tentang basah dan kering, tetapi juga tentang berat, keseimbangan, sebab–akibat, dan kontrol gerakan. Atau ketika Nara bermain dengan rumput dan daun di halaman, ia tidak sekadar menyentuh tekstur, tetapi membangun kosa kata sensorik: kasar, lembut, dingin, hangat, licin, kering.
Aktivitas-aktivitas ini melibatkan multiple sensory systems sekaligus, seperti tactile, proprioceptive, vestibular, visual. Sesuatu yang menurut Neuroscience & Behavioral Reviews sangat penting dalam pembentukan jalur saraf yang mendukung fokus, regulasi emosi, dan koordinasi tubuh.
Yang menarik, ketika sensory play terjadi dalam aktivitas nyata, anak tidak merasa sedang “belajar”. Mereka merasa sedang hidup, bergerak, dan menemukan dunia. Itulah sebabnya aktivitas seperti mandi, memasak, menyiram tanaman, memeras spons, mengaduk adonan, atau menyapu daun sering kali jauh lebih menenangkan dan memuaskan bagi anak.
Sensory play alami juga memiliki kualitas yang tidak dimiliki banyak mainan komersial, yaitu variasi tanpa batas.
Air hari ini terasa berbeda dengan air besok. Tanah kering tidak sama dengan tanah basah. Cahaya pagi berbeda dengan cahaya sore. Otak anak mendapat pengalaman sensorik yang terus berubah, yang menurut Frontiers in Psychology sangat penting untuk membangun fleksibilitas kognitif dan kemampuan adaptasi.
Di titik ini saya memahami bahwa mainan bukanlah pusat dari sensory play. Pengalaman adalah pusatnya.
Mainan hanyalah salah satu alat kecil di dalam ekosistem pengalaman sensorik yang jauh lebih luas.
10 Ide Aktivitas Sensory Play Anak Tanpa Mainan

Dari pengalaman saya mendampingi Naba dan Nara, aktivitas sensory play yang paling berdampak justru sering datang dari hal-hal yang paling sederhana. Ketika anak terlibat langsung dengan lingkungan sekitar (air, tanah, daun, kain, rumput, suara hujan, atau gerakan tubuh mereka sendiri), seluruh indera bekerja secara bersamaan. Inilah yang membuat sensory play anak menjadi sangat kaya.
Berikut beberapa aktivitas sensory play alami yang bisa kamu terapkan bersama anak-anak.
- Bermain air: menuang, memercik, meremas spons, memindahkan air antar wadah
- Eksplorasi dapur: meraba tepung, beras, kacang, mengaduk adonan
- Bermain tanah & pasir: menggali, menyaring, membentuk
- Mengumpulkan daun & batu: membedakan tekstur, warna, ukuran
- Mandi busa: merasakan licin, hangat, berbuih
- Melipat pakaian: tekstur kain, tekanan tangan, koordinasi
- Menyiram tanaman: berat air, kontrol gerak, keseimbangan
- Menyapu halaman: gerakan ritmis, proprioseptif, fokus
- Berjalan tanpa alas kaki: rumput, lantai, tanah, pasir
- Mengamati hujan & angin: suara, suhu, perubahan lingkungan
Kapan Mulai Melibatkan Mainan dalam Sensory Play Anak?
Dari pengalaman saya bersama Naba dan Nara, mainan sebaiknya mulai lebih dilibatkan ketika anak:
- membutuhkan tantangan baru dalam eksplorasi sensoriknya,
- mulai menunjukkan minat pada aktivitas yang lebih terstruktur
Selain itu, tidak semua keluarga punya halaman, taman, dapur luas, atau akses alam yang mudah. Cuaca, keterbatasan ruang, faktor keamanan, hingga jadwal orang tua yang padat sering membuat sensory play alami sulit dilakukan setiap hari. Di kondisi seperti ini, mainan sensorik menjadi solusi praktis untuk tetap memberi stimulasi yang dibutuhkan anak.
Kalau kamu sedang berada di fase ini juga, kamu bisa melihat beberapa rekomendasi mainan sensory pilihan kami di Nabanara:

Dressing Frame: Belajar Kancing, Resleting, Tali Sepatu, Lainnya
Dressing Frame adalah set aktivitas praktis yang terdiri dari 6 papan dalam satu paket, dirancang untuk membantu anak mempelajari berbagai keterampilan sehari-hari seperti mengancing, membuka–menutup resleting, menggunakan velcro, mengaitkan buckle, hingga mengikat tali sepatu.

Balok Busa Berlapis: Ada Puluhan Shapes
Balok Busa Berlapis adalah mainan yang dapat disusun, ditumpuk, dan dikreasikan menjadi berbagai bentuk sesuai imajinasi anak. Mainan ini dapat memberikan stimulasi sentuhan dari tekstur busa dan rangsangan visual dari warna-warna balok.

Soft Sensory Balls 6 Pcs
Soft Sensory Balls adalah set bola lembut bertekstur dengan ukuran sekitar 6,5 cm. Mainan ini memberikan stimulasi sentuhan melalui berbagai tekstur permukaan bola serta rangsangan visual dari warna-warna yang menarik perhatian anak
Secara perkembangan, menurut pendekatan dalam Developmental Psychology, sekitar usia 1–3 tahun anak mulai diuntungkan oleh alat bantu bermain yang memberi tantangan tambahan pada motorik, koordinasi, dan pemecahan masalah. Pada fase ini, mainan berfungsi sebagai jembatan antara eksplorasi alami dan stimulasi yang lebih terarah.
Namun yang selalu saya pegang sebagai orang tua Naba dan Nara adalah: mainan sebaiknya melengkapi pengalaman nyata, bukan menggantikannya. Ia membantu ketika kondisi tidak memungkinkan sensory play alami, tetapi tetap memberi ruang bagi anak untuk bergerak, merasakan, mencoba, dan bereksplorasi secara bebas.
Yang Saya Pelajari sebagai Orang Tua
Sensory play terbaik adalah pengalaman multisensorik yang kaya, bermakna, dan berulang dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menyadari hal ini, kita tidak lagi merasa tertinggal karena tidak membeli mainan tertentu karena ternyata, rumah, dapur, halaman, dan tubuh anak sendiri sudah merupakan sensory playground terbaik.